Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 09 Desember 2010

Motif Memberi: Antara Iman, Dompet Dan Keihklasan

Reformata Tabloid - KETIKA bercerita tentang uang dan jerat integritas yang ditawarkannya, seorang dokter bedah , teman kuliah dari Brazil di Haggai Advanced Leadership school, Dr. Jose Luis dengan mimik serius menceritakan kelakar “3 P” di negerinya. Katanya, “Yang harus diwaspadai, kalau berhubungan dengan uang yaitu unsur 3 P”.

“Apa itu,” tanya saya dengan rasa ingin tahu. Dia jawab, “P yang pertama, politisi, terus polisi”. Saya tidak bereaksi untuk 2 P yang pertama, dan diam-diam setuju. namun P yang ketiga, dia menyebut pastor, sebutan bagi para pendeta di sana. Saya cukup kaget dan mesem-mesem agak tak percaya. Lalu saya tanya, “Apa hubungan uang tadi dengan integritas kependetaan yang luhur itu?”
Dr. Jose menjawab lirih, “Banyak pendeta, yang menaburkan doktrin ‘rumus sukses' mendulang rezeki, dengan 'memberi dan menabur', tapi kemudian 'panen' untuk diri sendiri dan berujung dengan skandal. Dan kaum muda kritis yang melihat fenomena seperti ini akhirnya tumbuh dengan apatis terhadap institusi gereja.

Mereduksi arti memberi
Kata “memberi’ dan permumpamaan tabur- tuai, kini menjadi sebuah idiom yang makin sering dipelintir hakikinya, apalagi bila diucapkan oleh orang orang yang memiliki kuasa untuk memegang microphone dan berdiri di mimbar. “Memberi” dan perumpamaan “tabur-tuai”, juga semakin lama kian direduksi kebesaran dan hakikinya; makna dan artinya pun idem dito dengan hanya mengeluarkan dompet, dan digiring untuk interpretasi tunggal: kasi uang kalau mau dapat uang lebih banyak dari langit.
Memberi yang disertai harapan dan keinginan untuk mendapatkan dan mengambil, bukanlah memberi, tidak mencerminkan ketulusan. Platform seperti itu lebih sebuah nafsu mengambil yang dibalut dengan pembenaran dari sepenggal firman. Penggalan firman tidak lagi menjadi kebenaran tetapi menjadi pembenaran dalam sebuah motif fund raising secara halus.

Ketika “memberi” menjadi “mengambil”
Ketika niat fundraising yang dibalut dengan iming-iming teknik: mau rezeki dapat berlipat? Keluarkanlah dompet Anda, maka sebuah pertunjungan manipulatif yang sarat kepentingan diri, sedang diperagakan dengan jelas. Dan meskipun seorang fund raising bisa menggunakan teknik dan strategi pendekatan psikologis untuk menggerakkan mood dan perasaan jemaat untuk membuka dompet, namun niat “mengambil” di balik khotbah “memberi” tersebut pada akhirnya akan terlihat sangat nyata dalam body languages. Terlalu banyak tokoh religi besar yang akhirnya ambruk dililit integritas dengan “jualan janji “ seperti itu, dan akhirnya harus berurusan dengan tuduhan penggelapan uang organisasi dan berujung dengan hukum dan membawa aib bagi kebesaran gereja.
Jemaat dengan sedikit kepekaan dan intelektualitas akan bisa langsung mendeteksi: mana sebuah ajakan yang tulus untuk memikul tanggung jawab dalam sebuah beban pembiayaan, atau sebuah maksud transactional businesss yang bersifat exploitatif bagi sebagian kegamangan emosi. Apalagi bagi kalangan muda, cerdas dan kritis, pemelintiran dan mereduksi sepenggal firman dalam alkitab bisa berakibat boomerang, dan makin menjauhkan kaum muda dari gereja. Dan praktek seperti ini akan membuat suara : “They don’t have problem with God, They have problem with the Church” makin nyaring. Gejala gereja dengan dereten bangku kosong yang makin sering dilihat di negeri maju, terutama Eropa sangat mungkin merupakan akumulasi sikap kritis yang mempertanyakan integritas dan akuntabilitas terhadap pesan di atas.

Memberi tanpa embel-embel
“Memberi” memiliki implikasi yang amat luas, tidak hanya terbatas pada uang. Seorang guru setiap hari pekerjaannya adalah memberi, yang tanpanya peradaban tidak akan berkembang. Bagi seorang ibu, pekerjaan utamannya setiap hari adalah memberi. Pemberian ala ibu adalah tulus, tanpa iming-iming suatu hari akan memanen. Memberi tanpa rasa keikhlasan adalah sebuah piutang jiwa, yang suatu hari akan diungkit-ungkit, alias bangkitkan lagi, ketika si pemberi bertemu dengan kepahitan. Memberi yang paling besar, adalah ketika ada seseorang yang memilih mengambil posisi : merentangkan tangan di salib, mati bagi keangkuhan tubuh dan kefanaan jiwa , tapi hidup untuk sebuah kemerdekaan roh, dan menjadi Sulung bagi yang lain.
Justru saat seseorang memberi tanpa niat transaksional, layaknya terminology money politics dalam pemilu tetapi sebuah ketulusan yang mengalir dari dalam hatinya, Hukum Pemilik Alam, malah akan menambah-nambahkannya secara berlimpah dan secara amazingly dan abundantly.


Diktum “Memberi maka kamu akan diberi”, haruslah merupakan sebuah pengalaman self discovery, dan orang melalui pengalamannya sendiri berkata dalam hatinya, bahwa ia menemukan kesimpulan dan kebenaran doktrin tersebut, bukan karena diberi tahu apalagi di indoktrinasi oleh kekuatan mimbar. Hubungan diktum tersebut adalah hubungan konsekuensi, namun sering “dijual” di atas mimbar sebagai hubungan kondisional alias klausul prasyarat seperti ini: “Mau diberi, berilah!”
Pembangunan dan perintisan gereja dan kegiatan mission tidak diragukan memerlukan dukungan upaya dan dana yang sangat besar, dan memerlukan dukungan semua jemaat, namun kalau pendekatannya, bermuatan kepentingan pribadi dengan justifikasi penggalan firman tanpa melihat konteks keseluruhan dalam hal fund raising, maka kita akan sibuk dengan hasil tangkapan jiwa, namun akan melihat banyak jiwa lama yang pergi karena mempertanyakan sebuah ketulusan dalam memberi.


Bagaimana kita merespon sebuah ajakan mimbar untuk memberi yang diikuti anak kalimat “akan diberi “ dalam fund raising? Ikuti saja kata hati sanubari, kalau ada damai sejahtera, berarti ada Roh yang bekerja dan menggerakan, yang seperti ini akan menghadirkan rasa lega dan tulus, tanpa motif piutang.v

Indeks
Post your comment

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar