Cari Blog Ini

Rabu, 26 Agustus 2009

Self Awareness: Langkah awal menuju adaptasi emosi

Self Awareness: Langkah awal menuju adaptasi emosi

Nurie Lubis / 26-Aug-2009

1“Aku tidak bisa hidup tanpa dia! Aku tidak berguna!”
“Jangan begitu, masih banyak yang bisa kamu lakukan dalam hidup”
“Tapi cuma dia yang bisa membuatku bahagia”
“Masih ada pria-pria lain yang pasti lebih baik darinya”
“Aku tidak peduli! Pokoknya hidupku sekarang sudah tak berarti lagi!”

Percakapan singkat di atas adalah penggalan adegan dari sebuah sinetron di televisi. Kisah klise tentang seorang wanita yang ditinggal pergi pasangan yang sangat dicintainya. Banyak alasan kenapa sang pria pergi. Bisa jadi karena bekerja di lain kota, selingkuh dengan wanita lain, atau bahkan meninggal dunia karena tertular penyakit langka. Yang jelas, sepeninggal pria ini, sang wanita merasa kehilangan jati diri. Ia terlarut dalam emosi kesedihan yang mendalam hingga ia pun merasa hidupnya telah berakhir.

Pernahkah Anda mengalami hal yang serupa? Mungkin bukan kasus putus cinta, namun kasus-kasus lain dimana Anda sulit menanggulangi emosi Anda sendiri. Salah satu kasus sederhana yang sering terjadi adalah ketika berkendara di jalan raya. Seberapa sering Anda merasa ”tersinggung” ketika ada kendaraan lain yang menyerobot jalur Anda, hingga kemudian Anda tancap gas untuk kembali menyusul kendaraan tersebut? Atau pernahkah Anda memaki-maki supir kendaraan umum yang seenaknya menghentikan kendaraan di tengah jalan untuk menaikkan penumpang? Atau kejadian emosional lain di situasi yang berbeda, misalnya di kantor. Di tengah kekalutan mendekati deadline kerja, biasanya apa yang Anda lakukan? Tak henti-henti mengumpat karena atasan Anda justru menambah beban kerja? Memarahi staf Anda karena sepertinya mereka malah kerja berlambat-lambat? Ataukah justru Anda bolos kerja karena tidak kuat lagi menghadapi tekanan di kantor? Tanpa disadari, ternyata emosi banyak sekali mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita sama-sama telusuri dulu apa yang dimaksud dengan emosi.

Emosi merupakan suatu reaksi mental dan psikologis yang muncul secara spontan ketika seseorang berhadapan dengan suatu kondisi. Misalnya, ketika seseorang menjalani hari pertamanya berkerja sebagai sekretaris, maka wajar jika ia merasa senang karena mendapat pekerjaan, sekaligus merasa takut melakukan kesalahan mengetik. Lebih lanjut, terdapat empat jenis emosi dasar yaitu:

  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Takut

Keempat emosi ini kemudian berkembang menjadi berbagai emosi seperti cemas, malu, jijik, dan sebagainya. Emosi sendiri sebenarnya tidak memiliki muatan “benar” atau ”salah” karena ini merupakan reaksi manusiawi dalam menghadapi sesuatu. Perilaku yang mengikuti emosilah yang bisa dinilai “benar” atau “ salah”. Dalam kasus sekretaris baru tadi, jika ia tidak mampu mengatasi emosi takut yang ia rasakan dan kemudian mengetik dengan terlalu hati-hati sehingga memakan waktu yang sangat lama untuk membuat satu surat saja, maka perilaku inilah yang dapat dinilai “salah”.

Perlu diperhatikan bahwa tidak hanya emosi negatif seperti takut, marah, atau sedih saja yang bisa membuat kita menunjukkan perilaku yang “salah”. Emosi positif seperti bahagia juga bisa merugikan jika kita tidak paham bagaimana cara mengaturnya menjadi perilaku yang sesuai. 2Salah satu contoh adalah kasus siswa-siswa yang lulus ujian akhir nasional. Mereka menunjukkan luapan kegembiraannya dengan melakukan konvoi di jalan, membuat coret-coretan di dinding, atau bernyanyi-nyanyi dengan suara keras yang mengganggu orang lain. Tentunya kegembiraan mereka tidak salah karena mungkin mereka memang telah berusaha maksimal untuk lulus, namun cara mereka menunjukkan kegembiraan itulah yang tidak wajar dan dinilai salah menurut umum.

Wah, kalau emosi positif saja bisa merugikan, berarti kita benar-benar harus pandai mengendalikan perilaku yang menyertai emosi tertentu. Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan perilaku emosional kita? Langkah pertama adalah memiliki self-awareness.

Self Awareness

Untuk dapat mengendalikan perilaku emosional, kita perlu mengenali dulu emosi apa yang kita rasakan pada suatu waktu. Self Awareness (kesadaran diri) adalah perhatian yang berlangsung ketika seseorang mencoba memahami keadaan internal dirinya. Prosesnya berupa semacam refleksi dimana seseorang secara sadar memikirkan hal-hal yang ia alami berikut emosi-emosi mengenai pengalaman tersebut. Dengan kata lain, Self Awareness adalah keadaan ketika kita membuat diri sendiri sadar tentang emosi yang sedang kita alami dan juga pikiran-pikiran kita mengenai emosi tersebut.
Seorang pakar psikologi yang banyak menekuni permasalahan emosi, John D. Mayer, mengatakan bahwa umumnya ada 3 gaya yang tampil ketika seseorang menghadapi emosinya, yaitu:

  1. Terbebani (Engulfed)
    3Tipe ini tenggelam dalam emosi-emosinya dan tidak mampu keluar dari situasi ini. Mereka tidak memahami emosinya sendiri sehingga bisa mudah larut terbawa emosi. Akibatnya, mereka tidak banyak berusaha untuk keluar dari kondisi emosi tertentu dan akhirnya tidak mampu mengontrol perilaku emosionalnya. Contohnya adalah kasus putus cinta yang jadi pembuka artikel ini, atau kasus orang yang memaki-maki pengendara lain karena lalu lintas yang macet. Mereka tidak meluangkan waktu lebih banyak untuk menyadari emosi sedih atau marah yang sedang mereka rasakan. Begitu merasakan emosi tertentu, tanpa pikir panjang mereka langsung bereaksi sesuai dorongan emosi tersebut.

  2. Menerima (Accepting)
    4Orang-orang ini sebenarnya menyadari emosi apa yang mereka rasakan namun cenderung menerima begitu saja emosi yang sedang terjadi dan tidak mencoba memahami emosi tersebut lebih jauh. Pada akhirnya mereka tidak berusaha untuk beradaptasi dengan emosi yang muncul. Hal ini bisa menjadi masalah ketika emosi yang dialami adalah sedih, lalu dibiarkan berkepanjangan sehingga bisa menimbulkan perasaan tertekan (depresi). Hal lain terjadi ketika emosi yang dirasakan adalah marah atau takut. Mungkin saja dalam jangka panjang, emosi marah yang dibiarkan ini bisa berubah jadi perasaan dendam, sedangkan emosi takut bisa menjadi paranoid (rasa takut berlebihan yang tidak jelas alasannya).

  3. Sadar diri (Self-aware)
    5Orang-orang dengan gaya ini menyadari dan memahami emosi yang terjadi pada dirinya. Mereka mengetahui batas-batas norma yang perlu dijaga dan berpikir untuk mengelola emosi yang dirasakan agar perilakunya masih berada dalam ambang batas tersebut. Pada waktu merasakan emosi positif, orang-orang yang sadar diri mampu menunjukkan kegembiraannya dengan sesuai dan bisa mempertahankan perasaan menyenangkan dari emosi itu untuk beberapa lama. Di lain pihak, ketika mengalami emosi negatif, mereka tidak terlalu terobsesi dengan hal yang memicu emosi tersebut dan bisa segera keluar dari perasaan tidak nyaman. Contohnya ketika orang yang sadar diri mengalami putus cinta. Kemungkinan besar ia akan memahami bahwa emosi sedihnya itu wajar ia rasakan, namun tidak akan berlarut-larut dalam kesedihan. Ia akan mencari kegiatan lain yang lebih produktif untuk mengatasi perasaan sedih yang mendalam tersebut.

6Dari uraian di atas jelaslah bahwa ketika sadar diri kita jadi lebih mudah mengontrol emosi yang dirasakan sehingga bisa lebih efektif mengendalikan perilaku emosional kita. Kita bisa lebih memahami emosi kita berikut alasan-alasan yang menjelaskan kenapa kita merasakan emosi tersebut. Dan dengan menyadari alasan munculnya suatu emosi, berarti kita telah mendorong otak kita berpikir tentang tingkat kepentingan sumber masalah.
Begini contohnya. Misalnya seorang karyawan terjebak di kemacetan. Orang yang sadar diri akan menyadari bahwa ia merasakan emosi marah karena dirinya lelah sepulang dari hari yang padat di kantor. Ia ingin cepat tiba di rumah karena anak dan istri telah menunggu. Ketika ada kendaraan lain yang menyerobot jalurnya, sebenarnya si karyawan sudah siap untuk murka, melampiaskan amarahnya pada pengemudi kendaraan yang tidak sopan itu. Tapi karena ia sadar diri, ia berpikir lagi alasan kenapa dirinya ingin cepat-cepat pulang. Pada akhirnya ia bisa menyadari bahwa jauh lebih penting untuk bisa tiba di rumah dengan selamat daripada menyulut perkelahian di jalan raya. Nah, pilihan yang tepat bukan?

Dengan keuntungan-keuntungan menjadi orang yang sadar diri, tentu kita ingin menjadi orang yang demikian. Sekarang pertanyaannya, bagaimanakah caranya?

Membangun Self Awareness

Kesadaran diri dapat dibangun dengan mengaktifkan bagian otak yang disebut neokorteks. Ini adalah bagian otak yang terkait dengan penggunaan bahasa. Artinya, untuk meningkatkan kesadaran diri, Anda perlu “membahasakan”, mengidentifikasi, dan menamai emosi yang Anda rasakan. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah:

  1. I Messages (Pesan “Saya.....”)
    7Menuliskan atau menyatakan perasaan dengan menggunakan pesan yang diawali dengan “Saya....”. Contohnya: “Saya merasa perilaku Anda sama sekali tidak menghargai kerja keras saya” atau “Saya kecewa dengan keputusan yang kamu buat”. I message menyadarkan Anda bahwa kendali dari permasalahan yang terjadi ada di tangan Anda. Anda yang merasakan sebuah emosi, Anda yang menyatakan, dan Anda yang memiliki kendali untuk mengubah keadaan.

  2. Berbagai Cara Berbagai Warna
    Menggunakan berbagai metode untuk melukiskan dan mendeskripsikan perasaan:
  • 9Warna, contoh: warna kuning untuk emosi senang, biru untuk sedih, merah untuk marah, dan lain lain. Anda bisa menggunakannya dalam berpakaian, tinta alat tulis, warna font di komputer, dan sebagainya.
  • Skala, contoh: “Saya cukup merasa bahagia, kira-kira 80 dari 100 lah”. Ini memberi gambaran yang cukup terukur kira-kira seberapa kuat intensitas emosi yang Anda alami. Jika Anda bisa mengatakan bahwa kesedihan Anda berskala 50:50, maka tidak ada alasan bagi Anda untuk berlarut-larut dalam kesedihan itu.
  • Analogi, contoh : “Kalau saya ini gunung, saya sudah mau meletus!”. Analogi ini juga bisa digunakan sebagai pengukur intensitas emosi Anda. Bagi orang Indonesia, analogi seperti ini biasanya lebih mudah dipahami karena budaya kita memang banyak mengajarkan simbolisasi dalam bahasa (contoh: bagai kacang lupa kulitnya).
  1. Menuliskan kebutuhan yang tidak terpenuhi
    9Hal ini ditujukan untuk menjelaskan kepada diri sendiri alasan dari emosi yang sedang Anda rasakan. Contoh: ketika Anda marah pada saat staf Anda tidak ikut memikul beban kerja yang sama, Anda bisa menuliskan “Saya ingin dia ikut lembur ketika saya lembur” beserta kebutuhan/keinginan lain yang Anda sadari. Semakin banyak kebutuhan/keinginan yang Anda tuliskan, maka Anda akan semakin menyadari keadaan emosi diri.

  2. Menuliskan yang ingin dilakukan
    Sebenarnya ini sudah memasuki tahap lanjutan dari Self Awareness. Setelah Anda menyadari emosi-emosi yang sedang dialami, langkah selanjutnya adalah menentukan hal apa yang ingin Anda lakukan selanjutnya terkait dengan emosi tersebut. Pada contoh Anda marah pada staf yang malas-malasan tadi, Anda bisa menuliskan “Saya ingin memotong gajinya kalau pulang lebih cepat lagi” atau “Saya akan langsung menegurnya jika ia menolak penugasan”. Dengan menuliskan hal yang ingin dilakukan, Anda memberikan kesempatan bagi otak untuk kembali berpikir: apakah hal-hal tersebut sudah sesuai dan tidak menyalahi norma yang berlaku.

10Dengan membiasakan hal-hal di atas, Anda akan bisa merasa lebih nyaman menghayati emosi-emosi Anda tanpa harus larut dan lepas kendali. Nah, setelah Anda belajar banyak tentang emosi dan Self Awareness, tidak ada alasan lagi bagi Anda untuk merasa tidak berdaya ketika dilanda suatu emosi yang kuat. Baik itu emosi negatif, maupun emosi positif. Sekarang Anda sudah belajar untuk membuat diri Anda sendiri menyadari emosi-emosi tersebut. Tinggal separuh langkah selanjutnya dimana Anda merencanakan perilaku yang sesuai untuk mengekspresikan emosi tersebut kepada orang lain.

Sabtu, 15 Agustus 2009

Pria Lebih Cepat Mati?

- Jawaban -

Di Amerika Serikat dan hampir semua negara lainnya, kaum pria umumnya meninggal tujuh tahun lebih dahulu dibanding kaum wanita dan ternyata ini tidak hanya berlaku pada manusia. Dari kera, burung kenari, sampai katak, "Penelitian mengungkapkan bahwa lebih panjangnya umur betina tampaknya sesuatu yang universal dalam zoologi," ungkap William R. Hazzard, M.D., ketua Department of Internal Medicine di Bowman Gray School of Medicine of Wake Forest University, Winston-Salem, North Carolina.

Sejauh ini belum ada ahli yang bisa memastikan dan menerangkan mengapa hal itu terjadi. Namun para peneliti mempunyai sejumlah teori tentang mengapa wanita umumnya meninggal pada usia 79 tahun, sedangkan pria sudah mendahului sekitar usia 72 tahun.

Merokok dan gaya hidup keras adalah salah satu faktor menentukan bagi kaum pria. Mereka memang lebih menyukai keduanya walaupun sekarang pria perokok mulai berkurang sedangkan wanita perokok bertambah.

Penyebab yang paling utama menurut teori para ahli adalah pria lebih lekas menderita akibat penyakit. Pria di bawah usia 50 tahun dua kali lebih mungkin meninggal akibat penyakit jantung ketimbang wanita pada usia yang sama, terutama karena hormon testosteron, yang tidak memberikan perlindungan sama terhadap kelebihan kolesterol seperti estrogen. Pria juga lebih berpeluang menderita stroke, kanker atau penyakit-penyakit mematikan lain pada usia lanjut.

Sudah barang tentu nasib juga ikut berperan, tetapi pada umumnya Anda dapat mengatasi sebagian besar penyebab-penyebab yang lain. Dengan gaya hidup yang benar, Anda dapat meminimumkan kerusakan yang telah dijadwalkan oleh gen-gen Anda. Atau bahkan menghindar dari sakit sama sekali, maka Anda dapat hidup lebih lama, lebih sehat dan lebih bahagia sekian dasawarsa lebih banyak dibanding yang tercantum dalam statistik.

PUSH : Pray Until Something Happen!

Berdoa adalah bagian dari keseharian orang percaya. Kadang jawaban doa datang secepat kilat, terkadang juga jawabannya "tidak" dan "tunggu". Apapun doa kita, percayalah bahwa Tuhan menjawabnya. Dia selalu mendengar doa-doa kita, dan selalu memberikan jawaban.

Doa bukanlah sebuah mesin ATM untuk mendapatkan apa yang kita mau, ketika kita tekan tombolnya, lalu segera kita terima yang dibutuhkan. Terkadang Tuhan menggunakan doa untuk mengajarkan kita untuk tekun hingga jawaban doa itu kita terima.

Ada lima hal yang perlu Anda ketahui untuk memiliki kehidupan doa yang powerfull:

  • Tekun: sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan (Yakobus 1:1-4).

Yakobus memberi semangat kepada orang percaya untuk terus bersukacita bahkan saat kita berhadapan dengan pencobaan yang berat. Tetapi jika Anda tekun menghadapi ujian tersebut, berpegang teguh pada iman dan kepercayaan Anda pada Tuhan, Dia telah menyediakan yang terbaik bagi Anda. Dari pengalaman tersebut Anda akan "sempurna dan lengkap tanpa kekurangan sesuatu apapun."

Kadang Tuhan mengijinkan Anda untuk melewati ujian yang sulit karena hal tersebut akan mempersiapkan Anda untuk menerima jawaban doa yang telah dipersiapkan-Nya. Bahkan ditengah-tengah rasa sakit, jika kita dapat bertahan - berdoa, berpegang pada Firman-Nya, percaya pada janji-Nya - kita akan melihat kebaikannya membawa kita kepada sesuatu yang lebih baik.

  • Berhenti kuatir: Minta hikmat pada Tuhan untuk menghadapi situasi Anda (Yakobus 1:5).

Tuhan akan memberikan hikmat kepada mereka yang memintanya. Dia memberikannya dengan murah hati. Kadang kita mencoba mencari jalan keluar dengan hikmat dan kepandaian kita sendiri dan datang kepada Tuhan ketika sudah mentok. Mengapa tidak dari awal kita minta hikmat Tuhan. Tuhan berkata dalam Yeremia 33:3, "Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui."

Jika kita datang padanya secepat mungkin ketika kesulitan datang, Dia berjanji akan memberikan cara pandang-Nya tentang situasi tersebut. Dia akan menunjukkan cara menangani masalah tersebut dan akan lebih mempermudah kita.

  • Tepis setiap keraguan : Datang pada Tuhan dengan iman.

Ketika Anda datang pada Tuhan untuk meminta pertolongan, ingatlah bahwa Dia adalah Allah yang setia. Ketika Yesus mengajak Petrus berjalan di atas air, Petrus sanggup melakukannya dan ketika dia melihat ombak di sekelilingnya, Petrus mulai tenggelam. Ketika Anda meminta bantuan Tuhan, fokuskan pandangan Anda pada-Nya, jangan melihat pada keadaan sekeliling Anda. Dengarkan apa yang Yesus katakan dan percayailah dengan sepenuh hati.

  • Ingat Tuhan tidak dibatasi oleh situasi Anda (Yakobus 1:9-11).

Secara standar dunia ini, hanya orang kaya yang memiliki banyak uang yang bisa mewujudkan mimpinya. Mereka bis mendapatkan tawaran terbaik yang ada di dunia ini, dan bisa memiliki kekuasaan dan pengaruh karena kekayaan mereka. Tapi dengan kesediaan Anda untuk mempercayai Tuhan dan ketaatan padanya, maka tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Segala sesuatu bisa dicapai jika Tuhan bersama Anda.

  • Gigih, terus arahkan pandangan Anda pada Tuhan dan bersyukurlah atas kemenangan yang Dia berikan (Yakobus 1:12).

Dengan kegigihan Anda berdoa dalam segala keadaan, memuji Tuhan dan mempercayai kebaikan-Nya, Anda akan dibangun sebagai seseorang yang berkarakter yang layak untuk menerima berkat-berkat dari-Nya.

Dari tiap situasi yang Anda alami, Tuhan ingin Anda mengalami kemenangan demi kemenangan, hingga saatnya nanti tiba dimana Anda menerima mahkota kekal dari-Nya. Jadi jangan berhenti berdoa. Pray until something happen!

Selasa, 19 Mei 2009

Ubah Namamu

Ubah Namamu!


- Jawaban.com -
View: 1214 times
Filipi 1:27
Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 139; 2 Korintus 12; 2 Samuel 5-6

Konon, di kerajaan Iskandar Agung pernah hidup seorang penjahat kelas teri yang bernama Iskandar. Penjahat ini benar-benar mencemarkan nama baik sang raja karena berulang-ulang di negeri itu terbetik berita yang memerahkan telinga, semacam, "Iskandar mencuri ayam!" Dengan kesal, Iskandar Agung memanggil Iskandar penjahat dan memberikan ultimatum, "Kuberikan kemurahan padamu. Pilih ubah namamu atau ubah kelakuanmu. Kalau tidak..."

Pilihan serupa menimpa kita, orang-orang Kristen. Ada yang mengatakan, orang Kristen adalah Kristus-Kristus kecil. Sewaktu kita mengaku sebagai orang Kristen, orang pun mulai memandang kita dengan cara lain. Orang akan mengawasi hidup dan tingkah laku kita dengan seksama. Di sinilah pilihan itu. Kita memuliakan nama Kristus, atau mencemarkan-Nya.

Seperti dikatakan Trevor Yaxley, setiap kata yang kita ucapkan dan setiap hal yang kita lakukan seharusnya mencerminkan perkataan dan perbuatan Yesus. Sewaktu kita mengakui Kristus sebagai Tuhan, memasuki keluarga-Nya dan menyandang nama-Nya, kita pun memikul tanggung jawab ini. Trevor Yaxley menegaskan, "Satu-satunya Kristus yang dilihat oleh kebanyakan orang tidak lain adalah Kristus yang ada dalam diri kita." Marilah kita merenungkan arti menjadi duta besar Kristus. Gambaran Kerajaan Allah yang bagaimanakah yang kita sampaikan kepada orang-orang di sekitar kita?

Satu-satunya Kristus yang dilihat oleh kebanyakan orang adalah Kristus dalam diri kita.

Disiplin

Disiplin
Penulis: Paul Hidayat

Pahlawan sejati adalah mereka yang berhasil menaklukkan diri sendiri.” Pahlawan-pahlawan sedemikianlah yang kita butuhkan kini untuk meneruskan perjuangan para pahlawan kita dulu. Bukankah para pahlawan kita layak disebut pahlawan, karena mengobarkan sikap mental kepahlawanan: berani berkorban, pantang menyerah, berani memperjuangkan kebenaran?

Mentalitas kepahlawanan, agaknya meluntur sudah kini. Salah satu yang langka dijumpai adalah disiplin. Padahal ketidakdisiplinan merusak dan menghancurkan. Tidak disiplin dalam berlalu lintas, terjadi kekacauan. Tidak disiplin berbicara, jadilah ketegangan sosial. Tidak disiplin waktu, semangat kerja merosot. Tidak disiplin dalam kebersihan, rusaklah lingkungan hidup. Pokoknya, tidak disiplin membuat pemborosan dan penyia-nyiaan potensi yang ada.

Disiplin adalah latihan untuk menghasilkan sikap atau pola tingkah tertentu. Disiplin adalah tindakan-tindakan terkendali yang muncul sebagai akibat adanya tempaan. Inti dari disiplin ialah penaklukkan diri kepada aturan. Untuk orang percaya, disiplin adalah bukti konkret ketaatan kita kepada Allah dan firman-Nya, bukti kasih kita sebagai murid-Nya.

Disiplin juga adalah salah satu rahasia Paulus dipakai Tuhan (1Kor. 9:24-27). Paulus menyadari bahwa tubuh adalah rumah Roh Allah. Sebab itu, harus dihargai tinggi dan dipelihara hati-hati. Untuk itu, ia menjalankan disiplin menyeluruh. Ini logis, sebab kegagalan atau keberhasilan kita di satu bidang hidup, sering berkaitan dengan gagal tidaknya kita di aspek hidup lainnya. Disiplin itu sendiri adalah buah Roh. Roh yang hadir dalam orang percaya, akan membantu kita hidup terkendali di bawah kehendak dan hukum-hukum-Nya. namun, kita sendiri perlu aktif melatih diri. Kelakuan tumbuh dari kebiasaan, kebiasaan berkembang karena membiasakan diri. Kecil menjadi besar. Maka perlu melatih diri taat, hidup teratur dari hal-hal sepele sampai ke karakter.

Disiplin jelas menyangkut soal yang konkret. Soal banyaknya yang kita makan, soal berapa lama kita tidur, soal perlu tidaknya yang kita obrolkan, dlsb. biasanya dalam hal-hal sedemikian, disiplin berkaitan dengan keseimbangan hidup. Artinya janganlah kita melakukan sesuatu berlebih-lebihan, tetapi secukupnya dalam sikap syukur. Supaya kita tidak diperbudaknya, tapi kita tuannya di bawah kontrol Kristus.

Disiplin semacam ini tentu menuntut penyangkalan diri. Kemanusiaan tanpa disiplin dan penyangkalan diri adalah kemanusiaan yang sakit, merosot menjadi primitive kebinatangan. Itu sebab Tuhan Yesus mengenakan kita kuk perhambaan kepada-Nya.

iman Henry Ford

Ia dilahirkan tanggal 30 Juli 1863 di Dearborn, Michigan, Amerika Serikat. Ayahnya berharap ia menjadi seorang pekerja ladang sehingga Ford segera diperkenalkan kepada kerja keras manual bertani. Walau masih kecil, ia sudah curiga bahwa entah bagaimana, banyak hal yang seharusnya dapat dikerjakan dengan cara yang lebih baik. Karenanya ia selalu bermain dengan berbagai logam sisa yang selalu ia ubah menjadi peralatan. Sementara teman-temannya menghabiskan hari-hari mereka bermain di ladang, Ford menghabiskan sebagian besar waktunya di sebuah bengkel kecil yang ia bangun dengan seizin ayahnya di sebuah gubuk di lahan keluarga.

Ketika berusia 12 tahun ia berjumpa dengan sebuah mesin jalanan dalam perjalanannya ke kota. Itulah kendaraan pertama yang bukan ditarik kuda yang ia lihat. Ketika mesin itu berhenti untuk memberi kesempatan bagi keluarganya lewat dengan kuda-kuda mereka, Ford sempat turun dan berbicara dengan sang insinyur sebentar. Sejak itu ide membuat mesin yang akan menempuh jalanan itu mengobsesinya. Walau seringkali terbentuk jurang yang sangat besar antara mendapatkan ide dengan menjabarkannya menjadi kenyataan, bagi Ford pekerjaan yang menarik itu mudah dan ia selalu yakin akan hasil-hasilnya.

Umur 17 tahun ia memutuskan bekerja menjadi masinis pemula untuk Drydock Engine Works walau ditentang oleh ayahnya. Ia menyelesaikan pelatihannya kurang dari setahun, kemudian melahap majalah ilmiah yang ada untuk mengkompensasikan pendidikan formalnya yang hanya sebentar itu. Melalui majalah-majalah ini ia mendapat suatu proyeksi fiksi ilmiah ke masa depan bagi Ford, walau semua ahli dan spesialis menyepakati satu hal: bensin tidak akan pernah menggantikan uap untuk menjalankan mesin.

Ford sempat kembali ke ladang keluarganya setelah meninggalkan pekerjaannya di Westinghouse, di mana ia bekerja sebagai mekanik khusus. Di sana ia tetap mengerjakan impiannya walau ditawari lahan oleh ayahnya. Tak lama, ia segera pergi lagi ketika ia ditawari pekerjaan sebagai insinyur sekaligus masinis di Detroit Edison Company. Ia mendirikan bengkel di belakang rumah kecil yang disewanya di Detroit sehingga ia bisa mengutak-atik mesin bensinya setelah pulang kerja. Tahun 1892, ketika ia berusia 29 tahun, mesin itu terwujud. Antara tahun 1895 hingga tahun 1896 Ford mengemudikan mobilnya tidak kurang dari 1000 mil, terus mengujinya untuk meningkatkan performanya sebelum akhirnya ia menjualnya dengan harga $200.

Karena masa depan mesin bensin itu diragukan, ia ditawari promosi dan kenaikan upah untuk berkonsentrasi pada mobil energi listrik, yang diramalkan akan menjadi satu-satunya sumber daya di masa depan. Ia menolaknya karena impiannya adalah: memproduksi kendaraan berbahan bakar bensin secara massal. 15 Agustus 1899 Ford meninggalkan Edison Company. Karena ia ingin membuktikan kekeliruan asumsi bahwa mobil itu mainan orang kaya, ia mendirikan Dertoit Automobil Company dengan para investor yang dengan susah ia dapatkan. Tetapi karena selama 3 tahun perusahaannya tidak pernah menjual lebih dari enam atau tujuh mobil, dan karena kepentingan para rekannya hanya ingin memproduksi mobil-mobil berdasarkan pesanan dan meraih keuntungan sebesar-besarnya, Ford mengundurkan diri pada Maret 1902. Sejak itu Ford bertekad untuk tidak lagi diperintah, dan menyadari prinsip sederhana: Anda harus mandiri dan mengurus usaha Anda sendiri.

Tahun 1903 ia merancang dua kendaraan khusus balapan yang ia sebut ‘999’ dan ‘Arrow’. Ford memenangkan balapan ini dan memperoleh publisitas yang ia perlukan untuk membuat orang mengetahui keberadaan produknya. Ia kemudian mendirikan Ford Motor Company dengan menyewa sebuah bengkel besar dan langsung bekerja dengan bantuan beberapa rekan. Dalam satu tahun ia berhasil menjual 1708 mobil, dan perusahaannya terus berkembang dengan berbagai tipe mobil yang dihasilkan. Dalam lima tahun, Ford Motor Company sudah mempunyai 1908 karyawan, memiliki pabrik sendiri, dan memproduksi 6181 mobil setahunnya yang dijual baik di Amerika dan Eropa, hingga akhirnya ia memproduksi 100 mobil dalam sehari (walau keputusan ini mendapat reaksi keras dari orang-orang karena takut tidak laku).

Tetapi ia tidak berhenti sampai disitu. Ia terus bertekad mencari pengetahuan baru di tengah persaingan, dan salah satu usahanya adalah dengan berusaha membuat bobot kendaraannya menjadi ringan. Mujur, ia mendapati sebuah bahan bernama baja vanadium dari rongsokan mobil Prancis yang ringsek saat balapan. Bahan ini sebelumnya tidak bisa dicetak di Amerika Utara, tetapi kemudian Ford bisa menemukan sarana untuk mencetaknya di Ohio. Setelah bahan didapat, ia kembali merancang Model T dan berkeinginan untuk melakukan produksi tunggal. Tentu saja rencana ini mendapat tentangan karena mobil masih dianggap mainan khusus orang kaya, dan tidak ada untungnya membuat satu model saja terutama yang tidak mahal harganya. Lagipula jalan beraspal masih sedikit dan bensinpun masih langka.

Tetapi Ford tetap percaya pada mobilnya. Ia merevolusi industri mobil dari yang tadinya industri ‘rumahan’ menjadi kompleks industri yang mahabesar yang mempekerjakan 4000 orang dan memproduksi 35000 mobil model T setahunnya. Ia juga menjadi salah seorang yang pertama-tama menciptakan sistim perakitan yang dimekanisasikan. Bagian-bagian badan mobil yang digantung di udara dengan gantungan-gantungan mahabesar itu dikirimkan ke perakitan dalam urutan waktu tertentu sehingga waktu 10 jam yang biasanya dibutuhkan untuk merakit seluruh bagian mesinnya berkurang menjadi 5 jam. Akhirnya Model T sukses besar dan Ford membuka pabrik di seluruh dunia.

‘Segalanya itu mungkin… Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang diharapkan, bukti dari segala sesuatu yang tidak kelihatan’. Inilah kata-kata terakhir Ford. Imannya telah terealisasi lewat kehidupan dan pekerjaannya.

Kamis, 07 Mei 2009

H1N1

JAKARTA, KOMPAs.com - Influenza A (H1N1) atau yang disebut flu meksiko atau flu babi saat ini cukup mengkhawatirkan banyak orang di berbagai negara. Namun demikian, meski penyakit ini menular cepat masyarakat diminta tidak khawatir atau paranoid karena penyakit ini dapat musnah oleh tubuh yang sehat dan kuat.

"Penularan ini (flu meksiko) juga tergantung dengan daya tahan tubuh seseorang. Orang yang daya tahan tubuhnya kuat maka tidak akan terjangkit influenza ini," terang Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan, Prof Dr Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, DTM&H, DTCE di Jakarta, Sabtu (2/5).

Flu meksiko memang menular dan menyebar seperti virus influenza lain lewat percikan ludah, batuk. Namun, Tjanda meminta masyarakat tenang tapi waspada.

Virus ini, menurut Tjandra berbeda dengan H5N1 karena H1N1 dapat dimusnahkan sendiri oleh tubuh. "Masa inkubasinya selama 3-5 hari. Jika terdapat pasien yang dicurigai menderita penyakit ini akan diberi obat Oseltamivir atau Tamiflu untuk membunuh virusnya.

Sebagai antisipasi, Tjandra menyarankan kepada masyarakat untuk melakukan cuci tangan. Terlebih sebelum mengolah makanan, sebelum makan, dan setelah melakukan kegiatan.

Untuk pemakaian masker, ia berpendapat hanya digunakan bagi seseorang yang sedang sakit. "Kalau seseorang yang dicurigai terkena penyakit ini, dengan gejala panas dan batuk berkepanjangan segeralah berobat ke dokter," terang Tjandra.

H1N1

JAKARTA, KOMPAs.com - Influenza A (H1N1) atau yang disebut flu meksiko atau flu babi saat ini cukup mengkhawatirkan banyak orang di berbagai negara. Namun demikian, meski penyakit ini menular cepat masyarakat diminta tidak khawatir atau paranoid karena penyakit ini dapat musnah oleh tubuh yang sehat dan kuat.

"Penularan ini (flu meksiko) juga tergantung dengan daya tahan tubuh seseorang. Orang yang daya tahan tubuhnya kuat maka tidak akan terjangkit influenza ini," terang Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan, Prof Dr Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, DTM&H, DTCE di Jakarta, Sabtu (2/5).

Flu meksiko memang menular dan menyebar seperti virus influenza lain lewat percikan ludah, batuk. Namun, Tjanda meminta masyarakat tenang tapi waspada.

Virus ini, menurut Tjandra berbeda dengan H5N1 karena H1N1 dapat dimusnahkan sendiri oleh tubuh. "Masa inkubasinya selama 3-5 hari. Jika terdapat pasien yang dicurigai menderita penyakit ini akan diberi obat Oseltamivir atau Tamiflu untuk membunuh virusnya.

Sebagai antisipasi, Tjandra menyarankan kepada masyarakat untuk melakukan cuci tangan. Terlebih sebelum mengolah makanan, sebelum makan, dan setelah melakukan kegiatan.

Untuk pemakaian masker, ia berpendapat hanya digunakan bagi seseorang yang sedang sakit. "Kalau seseorang yang dicurigai terkena penyakit ini, dengan gejala panas dan batuk berkepanjangan segeralah berobat ke dokter," terang Tjandra.

Enzim Pencetus Kenakalan Anak

KENAKALAN anak diidentikkan dengan ketidakmampuan orangtua mendidik. Padahal, dalam penelitian, faktor pencetus kenakalan disebabkan enzim yang tidak seimbang. Benarkah?

Banyak orang beranggapan jika anak nakal itu disebabkan lingkungan atau orangtua yang tidak mendidik anak-anaknya dengan baik. Sebenarnya anggapan itu ada benarnya. Namun, dalam penelitian yang dilakukan Institut Psikiatri di London, Inggris. Hasil penelitian yang dilansir New Scientist mengungkapkan, enzim yang disebut monoamine oxidase A atau MAO-A memiliki pengaruh pada perilaku agresif anak.

Anak yang lebih nakal dibandingkan dengan teman lain sebayanya memiliki enzim ini lebih banyak. Ketua Peneliti,Terrie Moffitt, melakukan penelitian dengan mengambil contoh darah dari 535 anak laki-laki dan 502 anak perempuan yang lahir di Selandia Baru dan yang terdaftar di Dunedin Multidisciplinary Health and Development Study yang dikelola Universitas Otago, Dunedin, Selandia Baru. Melalui tes darah tersebut, para peneliti memfokuskan pada tipe gen yang mengandung enzim MAOA. Tipe gen inilah yang mengendalikan perilaku agresif pada manusia dan hewan.

Kemudian para peneliti membandingkan interaksi antara aktivitas gen MAO-A dan kriminalitas serta kekerasan pada masa kanak- kanak, yang diketahui sebagai faktor penentu untuk perilaku antisosial ketika mereka dewasa. Para responden anak laki-laki kemudian dibagi menjadi dua grup berdasarkan contoh darah, tipe gen MAO-A mereka, dan pengalaman mereka pada kekerasan saat masa kanak-kanak.

Pemisahan ini mengungkapkan bahwa variasi gen MAO-A pada anak laki-laki tidak dapat dengan sendirinya memengaruhi perilaku anak tersebut ketika dewasa. Namun, kondisi ini berbeda jika mereka memiliki pengalaman kekerasan saat masa kanak-kanak dan hasilnya sangat mengejutkan.

Anak laki-laki dengan tingkat gen MAO-A rendah, tetapi mengalami kekerasan saat masa kanak-kanak memiliki kecenderungan 3 kali lebih besar untuk memiliki perilaku menyimpang saat remaja, dan 10 kali lebih besar untuk melakukan tindak kriminal saat mereka dewasa, dibandingkan dengan mereka yang juga memiliki tingkat MAO-A rendah, tetapi tidak mengalami kekerasan fisik.

Kondisi yang kurang lebih sama juga ditemukan pada mereka yang memiliki tipe gen MAO-A tinggi. Dalam kategori perilaku antisosial, ternyata hanya ada perbedaan minor antara anak-anak yang memiliki tipe gen MAO-A tinggi dan sempat mengalami kekerasan fisik dan yang tidak.

Pada akhirnya,Terrie menyimpulkan bahwa genetik memengaruhi hampir separuh dalam variasi perilaku antisosial. Dengan mengidentifikasi gen-gen tersebut, mereka berharap dapat menemukan perawatan dan penanganan yang tepat untuk anak-anak tersebut sebelum terlambat.

"Dalam penelitian tersebut diketahui bahwa kenakalan pada anak-anak juga didasari kelainan gen. Kenakalan itu hanya bisa diatasi dengan memberikan pendidikan yang baik dan benar kepada mereka," kata dia.

Terrie menyebutkan, pendidikan yang utama dan pertama adalah keluarga. Dengan lingkungan keluarga akan terbentuk sifat, watak, dan perilaku misalkan dalam sebuah keluarga orangtua kurang perhatian terhadap anak, maka anak tersebut akan menjadi nakal (kurang terkontrol) demikian juga sebaliknya kalau lingkungan itu baik ada perhatian orang tua, maka anak akan tumbuh dengan baik.

"Dalam mendidik anak, kita harus mengetahui sifat-sifatnya misalkan anak yang mempunyai sifat pendiam kita dekati dengan halus sehingga anak tersebut mau bercerita tentang masalah yang terjadi, berarti kita menggunakan cara yang halus untuk menghadapinya. Lain lagi dengan anak yang mempunyai sifat keras, kita harus menghadapinya dengan tegas dan keras," ucapnya.

Selain melihat dari lingkungan keluarga dan sifat anak, harus dilihat pula latar belakang keluarga. Jika dalam keluarga tersebut mempunyai latar belakang yang baik, secara otomatis anak akan meniru yang baik. Namun akan berbanding terbalik jika dalam keluarga tersebut mempunyai latar belakang yang kurang baik, anaknya akan mengikuti tidak baik pula.

"Intinya adalah pendidikan dan arahan yang tepat. Tanpa itu, anak-anak dengan kelainan gen, akan semakin agresif dan tidak terkontrol di kemudian hari," tutur dia. (Koran SI/Koran SI/ftr)

Tampil Beda

Maleakhi 3:18
Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 119:89-176; 1 Korintus 8; 1 Samuel 3-4

Perjumpaan kembali dua sahabat lama, Chris dan Jhony yang telah berpisah sekitar sepuluh tahun lalu, penuh haru dan sukacita. Chris pun menawarkan Jhony agar bermalam di rumahnya. Jhony menyambut baik tawaran tersebut. Mereka berdua saling membagi pengalaman hidup. Jhony telah hidup baru dalam Kristus, semua kebiasaan lama yang tidak berkenan kepada Tuhan telah ditinggalkannya, termasuk minum minuman keras dan pesta pora. Kesaksian teman lamanya itu memang pernah didengar Chris, tapi belum terlalu jelas. Ia ingin membuktikan sendiri.

Saat makan malam bersama, berbagai menu termasuk minuman beralkohol ditawarkan kepada Jhony. Tawaran tersebut ditolaknya dua kali berturut-turut, tetapi pada tawaran ketiga Jhony tak mampu mempertahankan pertobatannya - pertobatan yang harus menjadi suatu pembeda nyata sebagai murid Yesus bagi Chris, Jhony pun meminumnya. Saat itu juga Chris berteriak sambil berkata, "Ternyata tidak ada perbedaan di antara kita. Dengan secangkir minuman saja engkau tidak mampu mempertahankan kesaksian hidup barumu."

Kisah di atas mengingatkan bahwa kapan saja, di mana saja, dan dengan cara apa saja, kita dapat dicobai dengan berbagai cara melalui tawaran dunia ini. Namun sebagai murid Tuhan Yesus, kita harus siap tampil beda.

Kita adalah pahlawan bagi diri kita bila kita mau dan mampu mengalahkan diri kita sendiri.